Pages

ADA APA DENGAN RATUSAN PURNAMA? (((AADC 2)))

Selasa, 17 Mei 2016

PULUHAN PURNAMA DAN KINI SAYA KEMBALI NGEBLOG. YAY... :)


                  Tanggal 28 April 2016, akhirnya bisa nonton perdana film AADC 2. Saya dan keluarga termasuk pengikut film ini. Saya nonton film ini dengan keluarga seperti 14 tahun lalu saya dikenalkan film ini sama orangtua di bioskop. FYI, 14 tahun lalu, tahun 2002 saya masih sekitar kelas 2 SD. Kalau ada film bagus, orangtua selalu ngajak saya nonton film tersebut dan konon katanya film AADC merupakan salah satu film pendobrak perfilman Indonesia menjadi semakin maju & berkembang. Saya nonton film AADC lagi saat saya awal masuk kuliah (sekarang udah mau lulus aja, hehe). Dan terbukti, film ini jadi salah satu film Indonesia favorit saya, mulai dari pemainnya, jalan ceritanya, isi ceritanya, porsi masing-masing pemainnya pas, semuanya suka, nggak seperti film Indonesia kebanyakan yang jalan ceritanya lebih seperti ftv. Apalagi peran mbak Dian Sastro yang pintar, tegas, dan juteknya suka banget! Salut pokoknya sama mas Riri Riza & mbak Mirles!!
            Sudah dua mingguan film AADC diputar di lebih dari 200 bioskop dan direspon positif oleh penonton. Penontonnya mencapai 3jutaan setelah dua minggu penayangannya. Di sini, saya ingin me-review film AADC 2 dan mengapresiasi. Semoga udah pada nonton di bioskop ya, jadi saya nggak membuat kalian spoiler.



AADC 2
            Suatu hari di sebuah café daerah Jakarta, Cinta, Maura, Milly, Mamet, tunangan Cinta, dan suami Maura berkumpul untuk membicarakan hal yang penting. Cinta mengusulkan rencana untuk liburan sekaligus reuni bersama beberapa hari ke Jogja dengan gengnya setelah 14 tahun lamanya. Para pasangan mereka kali ini harus mengiyakan rencana ini, termasuk Mamet yang sekarang menjadi suami Milly. Karmen yang waktu itu datang terlambat, diberitahu Cinta lagi atas rencana tersebut. Dan akhirnya Karmen pun menyetujui rencana tersebut. Alya meninggal karena kecelakaan, jadi persahabatan mereka sekarang hanya berempat.
            Sejak tahun 2002, Rangga tinggal di New York, Amerika. Banyak kejadian suka & duka yang ia alami di sana. Ayah yang selalu mendukungnya telah meninggal. Ia harus memperjuangkan hidupnya sendiri di Amerika, bahkan ia pernah merasa kesulitan saat kuliah dan hampir putus kuliah. Sekarang ia bekerja di sebuah kantor serta mengelola sebuah bersama sahabatnya di Amerika. Suatu hari, adik tiri Rangga datang ke cafenya. Kedatangan adik tirinya tersebut tidak lain menyuruh Rangga agar pulang dan menemui ibu Rangga. Kemudian beberapa hari, Rangga ditugaskan untuk ke Indonesia dari kantornya tempat ia bekerja. Rangga juga sudah lama tidak bertemu dan merasa rindu dengan Cinta. Akhirnya memperkuat alasan Rangga untuk pulang beberapa hari ke Indonesia.
            Saat hari pertama di Jogja, Milly dan Karmen tidak sengaja melihat Rangga dari dalam toko kue & café. Mereka mengikuti Rangga antara percaya tidak percaya kalau Rangga sudah di Indonesia. Saat malam hari, Milly dan Karmen menceritakan kejadian tadi siang pada Maura saat Cinta sudah tidur. Mereka berdiskusi apakah akan menceritakan hal tersebut atau tidak pada Cinta. Keesokan paginya, Milly, Karmen, dan Maura menceritakan hal tersebut pada Cinta. Cinta menegaskan pada sahabat-sahabatnya bahwa Rangga sudah tidak ada lagi dalam hidupnya. Namun Karmen merasa masih ada hal yang perlu diluruskan pada hubungan mereka semenjak Rangga memutuskan Cinta melalui selembar surat yang dikirim dari Amerika.
            Akhirnya pada keesokan hari, Cinta dan Rangga bertemu di sebuah café yang ada di Jogja. Sebelum memulai pembicaraan, Cinta menegaskan bahwa alasan ia datang bukan untuk Rangga, tapi karena sahabat-sahabatnya yang merasa masih ada hal yang perlu diluruskan. Rangga meminta maaf pada Cinta, namun yang dibutuhkan Cinta adalah penjelasan. Ditengah pembicaraan, Rangga melihat ada sebuah cincin melingkar di jari manis Cinta. Cinta pun mengakui kini ia sudah mempunyai tunangan. Cinta terus berbicara tanpa memberi jeda untuk Rangga menjelaskan. Sampai pada akhirnya Cinta mengatakan, “Tidak adil kamu bilang. Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu.. JA-HAT!” Setelah Cinta mengeluarkan unek-uneknya pada Rangga selama 14 tahun, Rangga mengajak Cinta mengobrol sambil jalan-jalan.
            Setelah sampai di suatu tempat, Rangga menjelaskan tentang lima tahun pertama saat masih bersama Cinta keadaan masih baik-baik saja. Setelah Cinta beserta keluarganya berlibur ke Amerika, saat mau kembali ke Indonesia ayah Cinta pernah berpesan kalau serius dengan Cinta segera lamar saja. Namun, Rangga saat itu dalam keadaan sulit saat kuliah di Amerika bahkan hampir putus kuliah, sehingga merasa tidak pantas untuk Cinta dan memutuskan Cinta lewat selembar surat. Rangga mengakui kesalahannya. Mereka sempat berdebat dan Cinta menampar Rangga lalu pergi meninggalkan Rangga. Tidak lama, Cinta kembali dan menyadari atas sikapnya yang seolah-olah masih ABG. Mereka berbaikan kemudian melanjutkan untuk jalan-jalan mengelilingi kota Jogja dengan meminjam sebuah mobil.
            Saat berada di dalam mobil, Cinta diam-diam senyum-senyum sendiri. Lalu Cinta menelepon salah satu sahabatnya kalau ia saat jam makan malam baru akan menyusul sahabat-sahabatnya dan berpesan agar tidak mengangkat telepon kalau tunangannya menelepon. Sudah beberapa tempat mereka datangi, mulai dari objek wisata, pagelaran seni, hingga café kopi langganan yang menjadi favorit Cinta di Jogja. Cinta baru ingat kalau sudah jam makan malam, kemudian ia menelepon sahabatnya, kalau urusannya dengan Rangga belum selesai dan tidak bisa menyusul untuk makan malam bersama. Di café kopi tersebut Cinta mengobrol dengan Rangga tentang asmara masing-masing. Rangga mengakui pernah berpacaran dengan seorang perempuan yang sosoknya mirip dengan Cinta dan mengatakan bahwa ia selalu ingat dan terbayang-bayang dengan Cinta. Cinta pun mendeskripsikan sosok tunangannya setelah Rangga ganti bertanya padanya. Rangga sedikit menyinggung hati Cinta lewat simpulannnya tentang tunangan Cinta. Cinta sedikit kesal dengan Rangga dan Rangga pun merayu cinta dengan hadiah mengajaknya ke suatu tempat.
            Larut malam, mereka masih bersama. Kali ini Rangga mengajak Cinta ke tempat yang jauh dari perkotaan. Cinta mengirim sms pada sahabatnya kalau ia akan pulang dini hari. Sampai di tempat tujuan, masih gelap dan mereka harus menaiki anak tangga. Setelah sampai di tempat yang Rangga maksud, Cinta takjub melihat pemandangan dari atas tempatnya ia berdiri. Setelah menikmati pemandangan tersebut, Rangga mengantarkan Cinta pulang ke tempat penginapan Cinta. Sesampainya di halaman penginapan Cinta, Rangga memberikan sebuah surat kemudian pamit pada Cinta, dengan cepat Cinta mencium Rangga seperti saat perpisahan mereka di bandara. Selepas ciuman itu, Rangga melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk menemui ibunya. Mereka berpelukan setelah lama berpisah. Rangga pun telah memaafkan ibunya. Beberapa hari Rangga mengabiskan waktu di rumah ibunya bersama adik-adik tirinya juga.
            Cinta masuk ke dalam penginapannya disambut teman-temannya yang sudah berkumpul di ruang tengah. Saat ditanya sahabat-sahabatnya tentang pertemuannya dengan Rangga, ia pun sedikit salah tingkah dengan mengalihkan pembicaraan seolah terburu-buru mau packing, namun ternyata sahabatnya sudah membereskan barang-barangnya serta membelikan oleh-oleh untuk tunangan Cinta kemarin.
            Sesampainya di bandara Soekarno Hatta, Cinta dijemput tunangannya, Maura dijemput suaminya, dan Mamet menjemput Milly. Cinta kembali menjalani rutinitasnya di Jakarta. Rangga sering mengirim chatting lewat line pada Cinta, namun Cinta hanya melihat tanpa membalasnya. Cinta membaca surat dari Rangga yang isinya puisi tentang keinginannya untuk balikan dengan Cinta. Cinta merasa salah telah mencium Rangga saat itu. Suatu hari, Cinta ketemuan dengan tunangannya di sebuah café. Cinta ingin menceritakan pada tunangannya tentang pertemuannya dengan Rangga saat itu di Jogja. Belum sempat ngomong, tunangannya mendapat telepon dari rekan bisnisnya. Sehingga tidak ada kesempatan untuk Cinta memberitahu tunangannya.
            Keesokan harinya saat kantor Cinta sudah tutup, Rangga mendatangi Cinta di kantornya. Ia merasa butuh jawaban dari ciuman Cinta saat di Jogja. Cinta menolak Rangga dengan mengatakan, “Rangga, saya sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Ciuman waktu itu tidak ada artinya buat saya.” Rangga sangat kecewa dan langsung meninggalkan kantor Cinta, namun saat keluar ia berpapasan dengan tunangan Cinta yang mau masuk ke dalam kantor Cinta. Tunangan Cinta tau kalau lelaki tersebut Rangga, mantannya. Lalu ia meminta penjelasan pada Cinta. Setelah berdebat panjang dengan tunangannya, Cinta menyusul Rangga yang saat itu akan kembali ke Amerika. Tak sempat menyusul, mobil Cinta menabrak trotoar.
            Satu bulan kemudian, Cinta menyusul Rangga ke New York, Amerika. Cinta mendatangi café Rangga, namun saat masuk ia kaget melihat Rangga dipeluk seorang perempuan. Rangga yang saat itu melihat kedatangan Cinta langsung mengejar Cinta yang berlari ke luar. Rangga menjelaskan bahwa perempuan tersebut hanya pegawainya dan tidak memiliki hubungan apa-apa. Cinta pun mengakui bahwa saat itu ia berbohong dan ia masih mencintai Rangga, Rangga pun mengatakan bahwa hanya ada Cinta di hatinya. Mereka pun berciuman di tengah salju New York.
SELESAI.


Puisi-puisi Rangga dalam AADC 2, alias tulisannya mas A'an Mansyur dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini.




Sebenarnya kalau dibandingin sama AADC yang pertama, saya lebih suka yang pertama. Tapi AADC 2 nggak kalah keren sih. Tokoh Cinta, saya lebih suka di AADC pertama yang tegas dan jutek, namun tetap peduli dengan sahabat-sahabatnya. Di AADC 2, Cinta masih terbawa dengan sikap ke-ABG-annya dan seolah-olah lemah karena tidak bisa melupakan Rangga. Saya kira dengan berjalannya waktu tanpa Rangga, Cinta bisa berdamai dengan masa lalunya, ternyata tidak. Saya berharap Cinta dengan tegas menolak balikan dengan Rangga, orang yang telah meninggalkannya sepihak tanpa penjelasan selama bertahun-tahun dan bahagia dengan orang lain. Sempat sebal sebenarnya dengan Cinta, “Kok masih mau aja sih sama Rangga yang begitu jahat!” hehe.. Namun mas Riri Riza & mbak Mira Lesmana membuatnya di luar bayangan saya.
Tokoh Rangga, saya lebih suka di AADC 2, pembawaannya makin tenang, nyenengin dan dewasa. Berbeda dengan Rangga di AADC pertama yang cuek, individual, nyebelin (suka berprasangka buruk). Saya lebih suka di AADC karena Rangga lebih mengalah dan berani mengakui kesalahan serta perasaannya pada Cinta.
Tokoh Karmen, saya lebih suka di AADC 2, terlihat yang paling peduli dengan Cinta adalah Karmen karena ia merasa pernah berada di posisi Cinta saat itu. Setelah mendapatkan pengalaman pahit dan mendapatkan pelajaran ia menjadi lebih dewasa dan perhatian pada sahabatnya. Sikap yang ceplas-ceplos dan gayanya yang tomboy masih melekat dalam dirinya. Tokoh Karmen seolah-olah bereinkarnasi, nggak nyangka sama perubahan tokoh Karmen yang disulap begitu berbeda di AADC 2 ini.
Tokoh Maura, saya lebih suka di AADC pertama yang sangat peduli dan sayang pada sahabatnya. Mungkin karena sudah punya suami dan anak, jadi prioritasnya sudah berbeda. Tidak kaget kalau Mauralah yang paling cepat menikah karena di AADC pertama, Maura suka dandan agar mendapat perhatian dari kaum pria. Di AADC 2, Mauralah yang paling peduli dengan kebersihan.
Tokoh Milly, sama saja tidak ada perubahan pada karakter Milly. Di AADC 2 pun masih tetap menjadi Milly yang lugu, selalu membuat orang di sekitarnya kesal juga terhibur. Tokoh Mamet pun sama saja tidak ada perubahan karakter, masih tetap menjadi Mamet yang lucu. Yang tidak disangka adalah Milly dan Mamet menjadi pasangan suami istri. Melihat peran Mamet dari AADC pertama yang menyukai Cinta, eh di AADC 2 Mamet menjadi suami Milly. Lagi-lagi mbak Mirles & mas Riri membuat cerita yang tidak bisa ditebak.
Akhir dari pembahasan ini, saya sangat suka dan mengapresiasi film ini. Salut atas kerja kerasnya menggarap film ini! Semoga perfilman Indonesia semakin maju kedepannya. Hidup perfilman Indonesia!

Sumber: foto dari instagram 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS